Yudhistira

Aku masih saja teringat dengan raut mukanya yang kaku, bahkan saat dia tersenyum. Lengkungan bibir yang tidak sempurna saat dia tersenyum dengan mata yang mengambang datar, membuat aku mengira-ngira bahwa dia tidak pernah belajar tersenyum. Dia, dengan raut muka yang sangat datar, selalu mencoba bercanda walau terkesan dipaksakan. Orang-orang tertawa, tapi beberapa meter di hadapannya aku melihatnya sebagai sosok yang lain. Semacam melihat sosok yang berusaha bermetamorfosis, berusaha bertransformasi menjadi seseorang yang baru yang menyenangkan menurut norma sosial. Orang lain menangkap bahwa dia adalah dia yang sekarang, tapi aku menafsirkan hal yang lain, mungkin aku sudah menyatu secara etnografis dengannya–sesuai yang pernah dia katakan di hadapan teman-temannya tempo hari.

Aku kemudian melihat layar handphone, melihat fotonya yang sengaja aku download dari sebuah jejaring sosial. Semacam penawar, saat rasa rindu mencekam. Jelas di sana, di foto itu dia mencoba lagi tersenyum sambil menjulurkan lidah. Aku selalu tersenyum saat memandang foto itu, teringat suatu hari aku mengejek karena pose yang sama saat berfoto. Dengan handphone kamera aku mengoloknya dan memaksanya untuk berpose dengan menjulurkan lidahnya. Kemudian, setelah kejadian itu, dia memiliki dua pose tetap, pertama dia menyilangkan tangan sambil tersenyum kaku, dan kedua dia akan membentuk huruf V dengan tangannya sambil menjulurkan lidah, dengan mata yang tetap datar.

“Tahukah, bahwa ada dua macam pola komunikasi. Pertama, komunikasi dengan jarak sosial dan kedua komunikasi dengan tingkatan sosial” Ujarnya membuka pembicaraan.

“Terus?” Aku terbiasa menyebut kata ‘terus’ untuk setiap pernyataan yang menggantung. Aku tidak pernah melihat wajahnya saat berbicara, kami terbiasa memandang daun-daun cajuput yang berjatuhan di depan tangga perpustakaan saat hari memandang langit sore selepas kuliah. 

“Tingkat sosial menunjukan posisi sosial atau jabatan, sedangkan jarak sosial menunjukan keakraban. Hmm Aku tidak suka SMS Prisya ke kamu yang tadi malam, dia harusnya sadar kalau kamu dan dia punya tingkat sosial yang jauh”

“Tidak masalah buat aku. Bagiku yang terpenting pesannya tersampaikan, gaya bahasa hanya embel-embel, sopan-santun hanya kendaraan”

“Mungkin akan berbeda, aku sudah tidak punya masalah jarak sosial denganmu. Kita sudah sangat dekat…Tapi dia tidak”

“Gapapa. Kita tidak bisa menafsirkan karakter orang lewat sms atau pertemuan singkat. Butuh waktu lama untuk mengerti seseorang. Biarkan saja Prisya seperti itu ” aku memandang wajahnya sebentar, kemudian menyelendangkan tas, beranjak pergi. SMS Prisya kemarin merupakan sebuah penolakan akan ajakan yang kami tawarkan, Prisya menolak dengan SMS yang menyinggung.

“Kamu terlalu baik..” Dia ikut mengangkat ranselnya, dan saat itu kami berjalan.

***

Dari hati yang paling dalam, aku patut berterimakasih padanya. Cara dia memarahiku yang masih terjaga sepanjang malam adalah cara yang manis. Karena setelah 20 tahun hidup di dunia, belum pernah ada manusia yang melarangku begadang. Biasanya aku akan bergegas tidur saat dia mengingatkanku melalui SMS, tapi tidak untuk malam ini. Ada sebuah arah hidup dan arah hati yang ingin ku ubah malam ini. Pilar manusia adalah hati dan logika, aku tidak ingin menjalani hidup dengan hati yang berserakan. 

Yudishtira. Aku masih memegang gantungan kunci Yudistira berwarna merah hati. Dua bulan kuniatkan untuk diberikan padanya, namun momen pertemuan kami selalu menolakku untuk memberikan replika itu. Entah aku yang tiba-tiba malu, atau dia yang sedang berbicara tentang suatu topik dan tidak ingin dipotong. Sejatinya gantungan kunci ini tidak hanya souvenir, tapi di dalamnya ada doa. Doa atas sikapnya yang ksatria. Dua bulan berlalu, dan sekarang ku teguhkan hati untuk tidak memberikan ini padanya. 

Aku memegang gantungan Yudhistira yang gagah itu, sengaja aku ukir dengan tanganku sendiri karena ingin menjadi sesuatu yang berharga untuknya. Aku ingin menjadikan ini sebagai kenang-kenangan yang sempurna untuknya. Tapi sepertinya batal, karena kekhawatiran yang dalam, takut gantungan kunci ini menjadi salah satu dari 7 gantungan kunci lain yang menggantung di ranselnya.

Aku kemudian terhempas dalam air mata yang masih menggantung dalam kelopak, tersadar tiga per delapan windu sudah aku mengenalnya dan tersadar bahwa setiap manusia pasti memiliki keinginan, mereka berlari mewujukannya. Beruntunglah jika yang ingin dikejar adalah hal yang nyata, ingin pergi ke Jepang, ingin punya mobil baru. Karena itu akan realistis untuk kau kejar. Tapi apa jadinya jika kau menginginan hati orang lain? dengan perasaan gundah kau terus mengharapnya. Belum lagi jika tuhan tidak mengizinkan, sedang hatimu terpaut jauh olehnya. Malah masuk babak baru untuk belajar tentang keikhlasan. Karena hati orang lain bukan sesuatu hal untuk diresolusikan. 

Sama seperti menginginkan hatinya. Setelah tiga perdelapan windu terlibat dalam hidupnya, setelah ribuan cerita yang dibagi, momen-momen manis yang dijalani. Kenyataannya, tidak ada sedikitpun hati yang dia bagi. Kami berbagi  dalam kekosongan. Dia mencintai adik tingkat kami, adik tingkat yang aku sayangi. 

Dalam replika Yudhistira ini aku ingin bercerita bahwa dia adalah puntadewa seseorang dengan derajat keluhuran setara pada dewa, seorang Yudistira yang pandai mengendalikan ego, seorang Gunatalikrama  yang pandai bertutur bahasa, dan seorang Samiaji yang menghormati orang lain bagai diri sendiri. 

Namun batal. Semua hal tentang Yudhistira yang menyusup pada dirinya ini lambat laun akan dia sadari. Tidak perlu diingatkan dengan sebuah ukiran. Dan semua kebersamaan kita, akan aku anggap sebuah kenangan, bahwa aku pernah masuk ke dalam sebuah laboratorium psikologi yang menakjubkan. Menyaksikan bagaimana seseorang yang sangat pendiam, tidak bisa melengkungkan bibir, kini menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

“Sarah, kamu belum tidur? FBmu aktif. Ini sudah hampir pagi, cepet tidur Sar, prioritaskan yang paling utama. Kesehatanmu itu yang paling utama” Sebuah SMS darinya masuk. Aku bergegas menyeka air mata yang membasahi ukiran Yudhistira. Ini sudah selesai.

 

****

Cerpen. Nurulaaisyah

-Mencoba kembali menulis

 

 

 

 

Sabit di Wajahmu

 

“Kau tidak akan dapat memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dali sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”–Harper Lee

Ada yang selalu menarik saat aku melihat pemandangan jauh menembus lorong matamu. Ada sebuah kebijaksanaan yang turun menelusuri garis mukamu. Sesekali, saat kau memandang luasnya dunia dengan tawa, saat kau berkelakar tentang bumi dan manusia, ketika kau berkelakar tentang hikayat petani yang duduk di pematang sawah bersama cucunya menggalaui masa depan sawahnya, bahkan ketika kau asyik bercerita tentang sekolah-sekolah mahal yang didirikan di atas tanah yang haus akan keadilan, atau tentang pendidikan anak-anak TKI di perbatasan negeri.

Ketika kau berbicara tentang partitur-partitur lagu, tentang suara Yanni yang begitu nyaring namun menusuk, tentang vokal chrisye yang kau ibaratkan sebagai nyanyian komunikasi antarhati. Tahukah? Itu semua menarikku pada duniamu, seolah aku ingin ikut serta merasakan dunia dari balik kacamatamu, dari balik aliran darahmu.

Kau mungkin akan diam seketika aku memejamkan mata, mencoba menghirup harumnya kebun pinus. Kau, di sampingku tertawa. Ini seperti yang mereka katakan bahwa semesta dan segala unsurnya adalah hal yang perlu kita syukuri, ada sebuah tawa yang tulus dan ada sebuah hati yang tenang.

Aku pernah bersungut kesal saat kau membuang gelas plastik bekas kopimu ke jalan, sebuah ironi karena pada saat yang bersamaan kau bercerita tentang kebiasaan orang merayakan tahun baru, konvoi dengan kendaraan mereka, menggerus udara sehat kemudian mengubahnya menjadi polusi. Berpesta pora dan meninggalkan banyak sampah, kau bilang itu bukan hal baik karena dampak ekologis yang mereka tinggalkan. Kau kemudian tersenyum oleh ulahmu, kau turun dari mobil yang kita tumpangi, memungutnya kemudian kau simpan di tasmu.

Aku mungkin tidak sebegitu kagum mengamati hidupmu yang jelas berbeda dengan orang seusiamu. Seberbeda saat kau menggesek biola untuk sebuah lagu Viva La Vida, Seberbeda ketika kamu menyodoriku lagu-lagu balada dan hikayat yang kau buat saat orang sibuk dengan lagu-lagu hiphop dan pop. Lagu itu, kau luncurkan ke handphoneku, kau tersenyum dengan antusias menunggu komentar. Aku selalu saja terkagum-kagum, melebihi apa yang kulengkungkan di bibirku.

Aku tak ingin menyalahkan ruang dan waktu, ruang karena jarak kita yang terpaut jauh, waktu karena aku yang terlambat mengenalmu. Jujur, aku tidak pernah tahu, apakah kau akan ditakdirkan untukku, karena mungkin tuhan menciptakan orang yang lebih sempurna darimu, dan perempuan yang lebih sempurna dariku. Kita, entah kapan namun pasti, akan mendalami hidup yang kita berdua tidak ketahui alur ceritanya, kita akan menjadi diri kita sendiri. Namun aku hanya ingin menyampaikan bahwa caramu memandang hidup, caramu melihat waktu dan entitas ketidakabadian, caramu menyatu secara etnografis dengan semesta adalah hal yang luar biasa, adalah hal yang tidak dimiliki seorangpun di dunia.

Dalam hujan yang tidak berhenti ini, aku masih saja sangsi. Dapatkah aku sekali saja melihat dunia dari balik kacamatamu? Dari balik aliran darahmu atau degup jantungmu? Hanya untuk temukan alasan mengapa begitu mudah menerbitkan sabit di wajahmu dan mengapa begitu mudah kutemukan keteduhan dan kebijaksanaan dalam lorong matamu?

–nurulaaisyah

=Image

Cinta: Sebuah Kausalitas

Aku sering berkelakar. Bahwa cinta adalah milik mereka yang mempunyai rupa, yang membalut badannya dengan gaun berbagai warna. Maka kau? Seberhati emas apapun namun kusam, jangan pernah mengharapkan cinta. Terlebih bagi mereka yang berhati kusam, berwajah muram, dan berpakaian sura. Aku pernah sangat yakin bahwa orang seburuk itu tidak pernah layak mendapatkan cinta. Tidak pernah. Tidak akan pernah.

Namun semua itu tiba-tiba patah. Karena kebutaanku sendiri. Kesalahan mengartikan cinta. Bahwa jauh di sana. Ada manusia-manusia yang mencintai tanpa syarat. Yang mereka pikirkan adalah terus memberi cinta tanpa harus diiming-imingi balasan. Yang mereka pikirkan adalah terus melindungi. Yang mereka pikirkan adalah berjaga setiap malam, membasahi bumi dengan air mata doa. Mengaklamasikan bahwa kau adalah alasan mereka untuk melanjutkan hidup. Saat kau menjadi alasan agar mereka terus kuat.

Kau boleh saja bertanya-tanya, apakah romeo masih bersedia berkorban jika Juliet Capulet dioperasi plastik sampai wajahnya tak berupa?; Apakah istrinya masih mau menemani hari-hari dalam khilaf suaminya, jika seorang shaleh tiba-tiba menjadi pemabuk, penjudi, dan pencuri?; Apakah michelle masih mau mengakui suaminya, jika Obama tiba-tiba menjadi gelandangan, melepas tuxedo lantas menggantinya dengan baju compang-camping?; Tapi jangan sekali-kali mempertanyakan “Apakah mereka masih mau mencintaiku jika aku…” karena jawabannya. Masih. Merekalah rumahmu.

Apa yang lebih menakjubkan dari cinta macam itu. Mereka tidak akan menjadikan rupamu, hatimu, dan pakaianmu sebagai alasan untuk mencintai. Namun sebaliknya, cinta mereka menjadi alasan tuk rela membasuh mukamu, menjadi pelita hatimu, membenahi hatimu.

Karena itulah cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta sebagai sebab, bukan akibat.

Cinta menjadi alasan pertama untuk memberikan yang terbaik. Cinta mahluk manapun, tidak akan menandingi Kasih mereka.

Untuk cinta sejati yang selalu tercurah.  Terima kasih. Ibu, Ayah. Semoga Tuhan selalu memuliakanmu.

Seputar Takdir

“Katakan padaku, seperti apa takdir itu? dari jauh: kita jatuh, lalu saling tersenyum.”–AJ

“Kau akan menjadi akademisi” Aku berbicara padanya dengan penuh kemantapan. Saat itu, angin berhembus bukan main. Aku menatapnya dengan wajah sinis.

Dia, dengan hidung bengkoknya berkata, dengan kerutan dahinya dia berceloteh panjang.

“Kenapa harus akademisi? Aku belajar sungguh-sungguh agar bisa ke luar negeri. Menjelajahi bumi. Menghirup saripati hidup. Berbagi. Menulis. Aku akan bekerja, aku akan bekerja untuk keabadian.”

“Bukan salahku. Aku hanya menyampaikan kembali apa yang kau bisikan dulu”

“Aku belajar untuk berjelajah. Agar mendapat tiket berjelajah. Aku akan menangkap setiap cerita, menuangkannya dalam bentuk apapun. Aku akan pergi ke Agra, menyusuri sungai Yamuna. Aku akan menapakan diri di Libanon berjalan di jejak Kahlil Gibran. Aku akan menulis surat untuk Juliet. Memakan Croissant. Aku akan melihat kebesaran Qin Shih Huang Chi. Aku akan memakan manisnya sastra persia. Akan menghabiskan musim semi di sekitar buckingham…”

Cita-citaku adalah menjadi seorang pembelajar. Aku ingin selalu balajar melalui buku, musik, biografi, percakapan dengan seorang pedagang asongan di bis, seorang pekerja bangunan yang pulang kemalaman, seorang penggila candi yang rela memburu seorang budayawan ke luar provinsi hanya demi mendapatkan sebuah klarifikasi, seorang gadis kecil dengan kaleng kecil, seorang TKI yang yang pergi ke 6 negara berbeda dengan kondisi buta aksara.

Aku ingin menjadi seorang pembagi. Kebahagiaan terbesarku adalah saat karyaku bisa memicu seseorang untuk berubah. Saat seseorang dapat tergugah. Saat sebuah karya bisa mengukuhkan hatiku yang suatu saat rapuh.Aku ingin membuat sekolah alternatif, di mana mereka bisa menjadi seseorang dengan keunikannya. Aku ingin membuat sekolah semenyenangkan Tomoe.

Aku ingin menjadi Ibu yang baik. Konon, menjadi Ibu yang bertanggung jawab untuk membesarkan dan menyejahterakan anaknya adalah ibu yang hebat. Namun Ibu yang bisa menjadi Ibu untuk anaknya dan untuk masyarakatnya adalah Ibu yang luar biasa hebat.

“Apa kau yakin dengan pilihanmu?” Aku tersenyum renyah, “Apa jadinya itu tidak terwujud? kau mau menghapus akun twitter, facebook, semua jejaring sosial kemudian menghindar sambil mengutuki kenekatan diri?”

“Apa rasanya takdir?” tatapannya menghunus. Sebuah tatapan setengah nanar yang mengikis kantuk malam ini.

“Seperti kerupuk, susu, coklat, parasetamol. Beragam” Ujarku

Dia terkekeh,”Apa jadinya jika aku bilang tidak berasa?”

“Tidak masalah” aku menaikan pundak tanpa peduli

“Karena takdir adalah sesuatu yang datang sedangkan manis, pahit, asam, dan asin adalah cara perasaanmu mendefinisikannya. Takdir seperti kue tawar, terserah kau pilih selai yang mana. Sesederhana itu”

Aku tersenyum datar. Memahami lebih dalam tentang apa yang berkeliaran di pikirannya. Begitu banyak sekali keinginan melanda seseorang. Lamat-lamat, aku memalingkan mukaku dari matanya yang siap menghunus tajam. Membalikan badan, kemudian aku pergi melanjutkan perjalanan. Entah orang macam apa lagi yang akan ku temui di perjalanan nanti.

Education, Ethics, Imagination

image

Study-oriented, some activists gonna hate it. But you know, haters gonna hate. Menurut saya tidak ada yang salah dengan istilah ‘study-oriented’ karena dalan perspektif saya ‘study’ has a very wide definition. Means, study gak hanya mengurung diri di kelas atau jadi mahasiswa kuliah pulang. Bagi pembelajar sejati, semua aspek dari mulai bangun tidur sampai tidur lagu adalah pembelajaran.

Saya senang sastra, saya senang bergaul, saya juga senang kuliah. To the point aja ah, saat itu saya dapat pesan dari WA bahwa kelas science school dipindah ke mata kuliah umum dari London Institute of Education, saya lupa nama dosennya, namun saya masih ingat topik besarnya: education, ethics and imagination.

So he firstly introduced what imagination is? Apa itu imajinasi. Apakah imajinasi terbatas apa tidak terbatas? Menurut beliau imajinasi adalah hal yang terbatas dan tidak terbatas. why? Masih ingat imajinasi teebentuk karena apa? Ya pengalaman.

Yups definitely. Experience makes imagination itself is limited or unlimited. Limited because imagination itself is a synthesis of experience for example flying-elephant we can’t imagine those things if we never saw any bird and elephant before.

Seems i have to go. I gotta continue the story soon

Rose in Globalization Era: “A woman’s Tumblr is a deep ocean of secrets.”

Mungkin ini efek dari globalisasi, ketika curahan hati bergeser tempatnya dari diari bergembok ke media sosial yang bisa diakses oleh semua orang di seluruh dunia (jika mereka mau). Padahal, dulu etikanya tidak seperti itu, menulis diari menjadi kebiasaan perempuan yang di dalamnya kita bisa ‘membuka’ kemalaikatan dan kebusukan kita dengan bebas, karena memang tujuan diari adalah untuk refleksi, untuk dianalisis di kemudian hari, untuk menumpahkan emosi.

Dan semua tumpahan-tumpahan diari bisa saja penuh dengan manfaat selama itu aman dan hanya orang yang berkepentingan saja yang membacanya. Ketika sembarang orang membacanya dengan tidak bijaksana, bisa saja menjadi sasaran empuk Oom dan tante Stalker, yang kemudian akan berdampak kepada yang lainnya.

Orang tua dulu, sebutlah orang tua saya dan juga nenek saya, berpesan tentang etika zaman dulu bahwa orang saat itu dianjurkan untuk tidak membuka privasi di ruang publik. Ayah saya bilang, “ketika kamu berbicara di media sosial, itu sama halnya dengan berbicara di sebuah mimbar, orang-orang bisa memperhatikan ucapanmu jika mereka mau, maka tetap berhati-hatilah walau hanya menulis tulisan”.

Tapi itu kata orang tua. Perkataan orang zaman dulu. Zaman sekarang sudah lain, sudah modern, listrik sudah masuk desa.

Walaupun demikian, saya pikir quotesnya Skyfall ada benernya juga, “Sometimes, the old ways are best”. Akan lebih bijaksana ketika kita menggunakan media sosial untuk membentuk pikiran kita, sehingga mereka akan merefleksikan ‘isi kepala’ kita. Sedang isi hati (Hati untuk menyimpan kabar privasi yang banget banget; hati yang suka ngeluh). biarlah tuhan yang tahu, atau biarlah kita mengemasnya menjadi bentuk baru, menjadi simbol yang dianggap sebagai estetika belaka, biarlah perkataan rose menjadi teori yang tidak terbantahkan bahwa, A woman’s heart is a deep ocean of secrets.” not, “A woman’s Tumblr is a deep ocean of secrets.”

*Refleksi pribadi.  nurulaaisyah. 19 desember 2012

Dialektika Reflektif

Saya senang mengejanya, “Dialektika Reflektif”. Sebuah dialog dua arah, seperti dialog Narcissus dengan danau tempatnya mengagumi rupa, hanya mereka, tidak ada peri Echo yang senang menggaung dan membabi-buta. Dialog dua arah yang akhirnya pihak-pihak dalam dialog tersebut terseret pada arus refleksi, memahami kelebihan dan kelemahan dirinya dan lawan dialognya lalu dengan siratan senyum menjabat tangannya dan membuatnya menjadi sebuah kekuatan. Bagi saya, itulah dialektika yang bersifat reflektif. Simpel, tidak perlu menggunakan bahasa thesis untuk memahaminya.

Ada beberapa hal yang harus dipahami, bahwa bercerita adalah hakikat manusia. Dale Carnegie bilang, dalam 2 jam percakapan telepon, seseorang bisa mengatakan 1oo kali kata ‘aku’. Begitulah manusia, baginya bercerita adalah suatu kemewahan dimana seseorang bisa menukar waktunya untuk bercerita. Bercerita adalah terapi, ketika seseorang bercerita, seseorang secara tidak langsung sedang menurunkan kadar stressnya.

Beberapa orang senang bercerita secara langsung pada orang yang dianggap mampu memberikan solusi, atau beberapa orang bisa bercerita pada orang yang bisa mendengarkan saja sudah cukup. Ketika seorang ‘helper’ (orang yang diceritai) menyimak cerita si ‘helpee’ (yang bercerita) ada baiknya si helper memperlihatkan mimik empati, karena pada akhirnya ekspresi empati itu akan menjadi cermin refleksi bagi si helpee dan akhirnya berdampak pada si helpee untuk menemukan solusinya sendiri.

Beberapa senang bercerita dengan media sosial, status, tweet, notes. Banyak. Namun tahukah kamu apa yang istimewa ketika seseorang introvert bercerita? Valdimir Nabokov menceritakan bahwa si Ayah Lolita adalah seorang introvert dan salah satu cara berceritanya yaitu dengan menulis melalui simbol. Saya yakin semua introvert mengalami itu. Menuliskan isi hatinya dalam puisi yang didalamnya berserakan simbol-simbol ketika orang lain hanya merangkumnya sebagai estetika.

Tidak salah. Tidak ada yang salah. Karena pilihan itu relatif. Relatif, karena kebenaran itu relatif (kecuali agama yang kau anut, kau akan bilang bahwa itu kebenaran yang absolut), kau mau pilih kebenaran yang mana? itu terserah kamu, makanya ini menjadi relatif. Namun bagi sebagian orang, kita tidak bisa mengunci mulut seseorang untuk tidak mengabarkan apa yang menurut kita tidak boleh dikabarkan, karena kunci yang sebenarnya ada di hatimu, kau mau menyampaikannya atau tidak. Ketika kau memutuskan menyampaikan cerita-ceritamu, itu artinya kau sudah siap kalau-kalau suatu hari seluruh dunia tahu. Dan ketika itu semua terjadi, kau tidak bisa menyalahkan si pencerita, karena kabarmu sudah menjadi hak si pencerita, dan karena si pencerita adalah manusia yang tetap bututh bercerita.

Bagi saya, itulah seluk-beluk dialektika reflektif.

Sahabat tidak hanya sekedar bisa mendengarkan ketika sebuah dialektika reflektif dimulai, tapi dia bisa menjadi pengisi kekosongan hati dan dia bisa menuntun kita untuk menemukan solusi, dan saya pikir kita semua sudah menemukannya, sesuatu yang ada dalam hati yang kadang kita sering menduakannya, Dialah Allah, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Prolog: Zuben El Akribi (δ Librae)

Saat matahari merayap-rayap menuju peraduan, jingga tersebar merona ke penjuru tempat, cahaya keemasan berkilau menyiangi. Orang-orang menunggu sore ini, tanpa jemu mereka menengadahkan kepala seakan menjemur wajah mereka ke arah puncak bumi, termasuk seorang ibu separuh abad dan berkerudung hijau dengan gamis berbahan sari, sedari tadi ia berdiri menunggu buah hatinya. Sesekali ia menghentak-hentakan selop warna kuning emasnya ke lantai, tampak tidak sabar. Bahkan ia menolak anak sulungnya saat anak sulungnya yang cantik dan berkulit madu itu menyodorkan air mineral. Beberapa waktu kemudian sang ibu mengibas-kibaskan tangannya, peluh bercucuran melembabkan kerudungnya, mengharumi kepalanya.

Di ujung sana Pesawat Garuda Indonesia itu lamat-lamat menukikan badannya dengan mulus. Angin-angin dilawan makhluk raksasa itu dengan angkuh. Pelan, roda pesawat akhirnya menggelinding rapi mencium tanah asalnya.

Penumpang hiruk-pikuk antusias ingin segera turun, semuanya berdiri ketika pramugari memberi instruksi. Beberapa di antara mereka tampak kikuk karena baru terbangun dari tidurnya, beberapa lagi tampak sibuk mengancingkan jasnya memantapkan diri bahwa mereka sudah rapi sambil sesekali menyapu jasnya agar kusutnya hilang.

Diam-diam mata salah satu pemilik jas hitam itu menatap sekeliling bandara melalui jendelanya sambil tersenyum penuh syukur. Untuk pertama kali dalam sejarah laki-laki berkulit putih itu menjentikan air mata. Seketika laki-laki lain menepuk pundaknya saat air mata hampir menelusuri pipinya, buru-buru laki-laki itu mengelap pipinya.

“Kenapa, lu?! Terharu?” Rasta tersenyum, menepuk pundak Akri.

“Oh, oy,  iya nih. Soalnya gua gak nyangka bakal kaya gini,”

“Gua juga,”

“Pengalaman pertama kita ya, Bro! Tapi, gua bener-bener gak nyangka bisa kaya gini,”

“Lu, pasti gak nyangka lo bakal sehebat ini karena lo selalu inget sama masa lalu yang lo anggap suram itu, ya?”

“Iya! Dulu gue nyangka, gue gak akan sanggup bisa kaya gini, lo tau lah gue dulu bodonya kaya gimana? Tapi ternyata yang paling penting dari sebuah kehidupan itu adalah menjalani saat ini, episode di hadapan kita ini, dengan sebaik-baiknya. Terlalu larut dalam masa lalu, membuat episodemu berjalan kosong, bahkan bisa saja dia repot dijubeli dengan penyesalan dan kekecewaan. Lantas terus melihat ke depanpun bukan berarti baik, kau akan berjalan dengan episode kosong pula karena terlalu sibuk mengail-ngail lamunan, parahnya kau menginggalkan episode yang seharusnya kau isi dengan sebaik-baiknya dengan kekosongan dan harapan yang tidak kunjung diisi,”

“Akri, mulut lo di-hack, ya?” Mata Rasta berubah membulat, dia menatap heran sahabat sejawatnya yang biasanya humoris berubah menjadi sangat dewasa.

“Haha… itu omongan orang, Bro! bukan omongan gue! Cuma kebetulan aja keluar lewat mulut gue,”

“Maaf, Mas Akri dan Mas Rasta. Sepertinya Anda harus segera masuk ke barisan, sebentar lagi acara penyambutan dimulai,” Seorang pramugari berpakaian warna hijau toska muncul di depan mereka dengan wajah yang dia set agar selalu tersenyum dan berseri.

“Jas lo tuh, Kri. Kancingin yang bener, jangan jungjat gitu.  Mau ketemu sama Mendiknas, lu!”

“Ohoh, sori,” Akri buru-buru membenahi kancing jasnya, yang tadi ia pasang tertukar antara kancing dan lubangnya. Ia menunduk dan mendapati sepatu pantofelnya yang sedikit kotor, tangannya merogoh saku jas untuk mencapai sapu tangan. Dia tersenyum melihat sapu tangan yang tidak pernah berubah dari dulu, sapu tangan berwarna biru muda dengan bekas jahitan yang melintang di tengah sapu tangan itu, Nashira.

“Kri…” Rasta memanggilnya, seakan memberi kode bahwa dia ingin Akri buru-buru.

“Bentar!” Perlahan dia menggosokkan sapu tangannya dengan kuat ke sepatu pantofelnya.

 Selesai mengelap sepatunya Akri segera bergabung dengan barisan, dia berjinjit ingin mengintip lagi keadaan di luar di balik jendela, namun usahanya hampir sia-sia karena orang-orang di depannya sulit memberi celah untuk area pandangnya. Akri hanya melihat orang-orang di tepi bandara yang mungkin resah menunggu kedatangan penumpang.

Pintu pesawat terbuka, tangga pesawat menjulur, karpet merah digelar, penumpang pesawat mengantri di pintu pesawat lalu perlahan menuruni tangga. Tarian-tarian penyambutan digelar.

Tarian Merak. Lima orang penari berlari-lari kecil memasuki area penyambutan, kaki telanjang mereka terlihat cantik karena gelang kaki yang menempel senantiasa bergemerisik. Kedua tangannya dihiasi kain yang memberi kesan bahwa tangannya telah berubah menjadi sayap yang menakjubkan. Sayapnya berlatar merah muda, sedang corak-coraknya adalah bulatan elips berwarna merah muda yang dibalut dengan warna biru tua, kemudian dibalut lagi dengan warna kuning dan berakhir dengan taburan warna-warna keemasan yang memberi imaji bahwa sayap ini sangat mewah, bukan sembarang sayap merak. Sedang kepala para penari ditutupi oleh tiruan merak yang terbuat dari perunggu keemasan, perunggu itu juga tidak kalah memesona dengan sayapnya karena dia ditaburi oleh permata-permata berwarna hijau dan merah, membuat warnanya senantiasa hidup. Layaknya topi, merak perunggu hinggap di atas kepala penari, namun tidak menutupi kecantikan penari ber-make-up minimalis itu, merak perunggu itu seakan memberi penegasan bahwa yang menari di depan penonton adalah merak, bukan manusia.

Tarian penyambut tamu ini menceritakan tentang merak-merak jantan yang menari-nari menampakan keelokannya untuk memikat para betina. Lenggak-lenggok penari tampak anggun dan terhormat. Sesekali mereka merentangkan tangannya sambil meloncat kecil, seakan mengatakan bahwa mereka mengajak penonton untuk terbang bersama mereka.

Merak merah, merak merah muda, merak kuning, merak putih, dan merak ungu akhirnya pamit dari penonton. Penonton terkesima karena keelokan tariannya. Tepuk tangan riuh terdengar. Penari merak meninggalkan area penyambutan, namun begitu, kekaguman penonton tidak begitu juga selesai. Mata-mata kagum penonton membuntuti mereka sampai mereka lenyap dari pandangan.

Usai tarian penyambutan, para penumpang pesawat turun dari tangga, menuju karpet merah yang telah menggelar menyambut mereka.

Akri terlihat gugup dengan medali emas yang membelit lehernya, berkali-kali dia merapalkan doa yang dia dapat dari Taman Pendidikan Al-Quran semasa SD untuk menghindari rasa gugup. Namun tetap saja, tangannya gemetar tak beraturan lalu suhu dingin menyelimuti kulitnya, sedangkan suhu hangat mengalir meresap ke dalam tubuhnya. “Padahal ini cuma acara salam-salaman, kok bisa nerveous gini, sial!” dia menggerutu dalam hati.

Dia mengikuti deretan-deretan orang yang mengantri di depannya, ia ikut berderet untuk menyalami orang-orang berdasi yang tidak begitu ia kenal, lalu tibalah saat-saat yang ia tunggu-tunggu, saat-saat untuk bersalaman dengan laki-laki yang paling ia kenal dibanding dengan laki-laki lain yang sedari tadi berderet di tepi karpet merah, Menteri Pendidikan Nasional.

“Zuben El Akribi, calon astronot asal Indonesia,” Bapak menteri menjabat tangannya dengan erat lalu mengayun-ayunkannya dengan bersemangat, “Bapak, bangga padamu, Nak. Sungguh hebat bisa memboyong medali emas di International Astronomy Olimpiad” tangan kanannya tak berhenti menjabat Akri, sedang tangan kirinya menepuk pundaknya dengan perasaan bangga, seketika mata sipit Pak Menteri hilang ditelan senyumannya yang lebar.

“Terima Kasih, Pak,” Akri menundukan kepalanya. Tangannya semakin dingin, semakin gugup, terlebih saat kalung melati tiba-tiba hinggap mengelilingi lehernya, harum memenuhi hidungnya membuat dadanya sesak karena tidak percaya bahwa perjuangannya akan berakhir seperti ini. “Cogito Ergo Sum, Genero Ergo Sum. Teruslah berpikir, teruslah berkarya, Nak. Manjakan rasa penasaranmu, karena dengan begitu kamu akan terpancing untuk berpikir dan mencipta,” Bapak Menteri Pendidikan tersenyum, lalu setelah ia mengalungkan bunga melatinya, kedua tangannya bertengger di pundak Akri sambil memandang wajahnya lekat, rasa bangga dan haru tiba-tiba muncul di mata coklat Akri.

            Cogito Ergo Sum. Idiom ini mengingatkan Akri pada seorang filsuf asal Perancis René Descartes, idiom ini berbunyi, berpikir maka aku ada. Sebenarnya idiom lengkapnya tidak hanya itu saja melainkan, ‘Aku ragu maka aku berpikir, aku berpikir maka aku ada, aku ada maka orang-orangpun ada, dan Tuhanpun ada.’ Namun Cogito Ergo Sum- lah idiom yang paling terkenal. Idiom ini seakan memecut orang-orang agar selalu berpikir untuk mempertahankan eksistensinya.

            Dunia ini pragmatis. Dunia ini kejam, dia hanya akan mengangkat orang yang memiliki ‘apa-apa’ dan dia akan membiarkan orang-orang terpuruk semakin terpuruk dan semakin terlupakan, kejam sungguh. Bahkan Sinetron Para Pencari Tuhan mengatakan bahwa dunia ini buta dia hanya mampu mendegar keringat yang jatuh karena kerja keras. Lalu, untuk bekerja agar bermanfaat, manusia harus mengerahkan senjatanya yaitu berpikir, tanpa berpikir manusia tak ubahnya seperti keledai yang jatuh pada lubang yang sama selama berkali-kali. “Berpikirlah untuk mempertahankan keberadaan kita,” Akri berbisik pada dirinya sendiri, “Well, dan ‘keberadaan’ bukan berarti dikenal banyak orang, namun itu berarti saat kita ada kita bermakna bagi orang-orang di sekitar kita” tambahnya.

            Akri lalu melanjutkan bersalaman dengan orang-orang berdasi yang tidak ia kenal, matahari sudah berhasil merayap ke pelukan barat, langit mulai gelap menggantikan langit lazuardi bersih yang bersinar seperi tadi. Jingga bertengger di gunungan bangunan-bangunan Jakarta, warna langit orange kegelap-gelapan. pelan-pelan Akri menyedot seluruh manisnya langit dengan napasnya sambil memejamkan mata.

            “Akri!” Dia ingat suara serak basah itu, Kak Lydia. Suaranya sangat akrab di telinga.

            “Kak,” Akri langsung memeluk sosok berkulit madu yang ada didepannya

            “Mana Ibu, Kak?” Dia masih betah dalam pelukan kakak perempuannya itu, hangat. Aliran-aliran kasih sayang menyelimuti mereka.

            “Ada di belakang, Kri.”

Ibu, perempuan berkerudung hijau dan berbaju berbahan sari itu menatap Akri dari kejauhan. Waktu dan tantangan membuat Akri terlihat lebih bijaksana dan dewasa. Tidak ada lagi Akri yang sering mengeluh dan merengek meminta keinginannya agar dipenuhi. Kini yang ada di depannya adalah sosok yang bijaksana. Sosok dengan postur tubuh proporsional, berjas hitam, dan senyum yang bersahabat. Akri telah jauh berubah, semua dalam dirinya berubah. Kecuali gigi taringnya yang gingsul, menjadi saksi mati yang menemani perjuangannya, setelah ibunya.

            Akri berlari kecil menuju ibunya, lantai memantulkan suara kakinya yang ribut berirama saat ia berlari, sekonyong-konyong ia lalu memeluk ibunya dengan erat, pelukan paling erat yang pernah diberikan oleh Akri pada orang-orang. Dalam eratnya pelukan itu ia menangis, air mata tercecer begitu saja. Ibu balas memeluknya lebih erat, tidak berkata apa-apa tapi hembusan napasnya menyiratkan doa-doa dan ribuan kata-kata mutiara.

            “Bu,” Akri tak berhenti memeluk ibunya, napasnya kian dalam, suaranya berat. Ibunya tidak berkata apa-apa, dia masih ingin melepaskan rasa lega yang sempat tertahan. Tangan kanan ibu mengusap kepala Akri, sedangkan bibirnya kini bergerak merapalkan sesuatu serupa doa. Suasana haru terjadi selama beberapa menit, sebelum akhirnya ibu memecah keharuan, “udah makan, nak? Ibu bawain Gehu Pedas, kesukaanmu,”

            “Boleh, mana, Bu,”

            “Coba ambil di kursi, ibu meninggalkannya disana beserta baju-baju Kak Lydia,”

Akri berjalan menuju kursi tempat gehu jeletot, makanan kesukaannya tersimpan. Setelah dikagetkan dengan kedatangan Kak Lydia, dan Ibu, laki-laki berambut hitam itu dikagetkan dengan sosok yang sedang duduk disana. Badannya membungkuk, menjadi sebuah ciri bahwa ia sedang menikmati suasana. Kepalanya kini berkerudung, berkerudung jingga, wajahnya semakin cantik karena mukanya terbingkai anggun. Jarinya panjang, namun tidak dengan kukunya karena kukunya terlihat buntet saking sering dipangkas.

Ia tersenyum anggun pada Akri, seolah ia telah tahu bahwa dengan atau tanpa disengaja Akri akan datang menghampirinya.

            “Aku kedatangan orang hebat rupanya,”

            “Hm…” dia memarkan giginya yang sedikit gading.

            “Gehu jeletot kesukaan kamu!” Dia menyodorkan keresek berwarna putih

            “Kita perlu bicara!”

Akri menatap tajam perempuan di hadapannya untuk waktu yang cukup lama. Dia tersenyum tidak simetris pada perempuan berkerudung itu. Seolah ingin mengatakan sesuatu, ia berkata lagi, “Kita perlu bicara!”

***

Curhat Monolog Tentang Blog

Halo! Nama saya Nurul. walaupun gak terlalu penting :p hehe, saya ingin  bermonolog di sini untuk berceritakan kenapa saya harus membuat akun di wordpress. Saya membuat blog ini bukan karena eksodus dari Multiply (rumah saya yang sebenarnya ada di blogspot), bukan itu kawan-kawan. Alsan yang sebenarnya adalah karena saya terhenyak setelah membaca tulisan rekan saya tentang menulis, dalam menulis sebenarnya ada tiga tahapan:  pertama adalah menumpahkan ide, tahap kedua adalah editting, yang ketiga adalah evaluasi.

Di Tumblr, saya berakting sebagai ashabul kahfi (penghuni gua) saya datang kesana dengan sebuah keyakinan bahwa Tumblr adalah obat writing blocks. Lalu hubungan antara gua dan witing blocks apa? Saya meyakini apa yang ditulis oleh Erica Jong bahwa writing blocks adalah sebuah gangguan psikologis karena kita merasa bahwa aktivitas menulis kita dilihat orang banyak sehingga kita malu untuk menumpahkan pikiran kita. Yups! Tumblr layaknya gua, di mana saya bisa bebas menumpahkan apa saja yang ada di dalam pikiran there is not restriction in thinking, kan?

Di Blogspot, saya berakting sebagai tuan rumah. Karena itu adalah rumah saya, tentu saja. Ada sebuah kepuasan tersendiri ketika kamu membersihkan rumahmu yang sudah penuh dengan sarang laba-laba, menyapunya dari debu, atau sesekali mengecatnya lalu menambahkan aksesoris agar terlihat lebih estetis. Kepuasan besar ketika kamu bisa menuliskan apapun yang kamu suka tanpa harus menghiraukan kritis hampa apatis atau komentar pahit sinis sarkastis yang kadang-kadang menimbulkan kegamangan untuk total mengubah diri atau tetap menjadi diri sendiri dengan introspeksi.

Di WordPress, saya berakting sebagai anak kecil yang datang ke sebuah bangunan kosong dengan mata berbinar-binar kemudian perlahan meletakan sebuah burung-burung kertas yang berisi harapan. Magnum Opus, dalam bahasa latin artinya Great Work mari kita lihat cuplikan berikut:

Magnum opus (plural: magna opera, also opus magnum / opera magna), from the Latin meaning “great work”,[1] refers to the largest, and perhaps the best, greatest, most popular, or most renowned achievement of a writer, artist, composer or craftsman.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Magnum_opus)

Simpelnya, adalah sesuatu yang nyesek ketika resolusi menerbitkan buku belum juga tercapai :p hehee. Terlalu melodramatik kalau harus nyesek berkepanjangan. Saya berubah pikiran, bagaimana jika saya membuat ‘buku’ sendiri? Caranya dengan mengumpulkan magna opera (bentuk jamak dari magnum opus). Memunguti tulisan yang saya anggap memiliki kekuatan lebih, lalu  mengevaluasinya,  kemudian menyintesisnya menjadi bentuk yang baru. Hal itu tentu lebih menyenangkan. Dengan kata lain, ini adalah tahapan evaluasi terhadap tulisan.

Saya di sini tetap berperan menjadi anak kecil dengan segunung harapan, berharap suatu saat tulisan saya bisa dibukukan. Tapi, walaupun  tidak. Saya tetap merasa senang, karena saya pernah berpikir dengan menulis. Karena dengan menulis saya menjadi ada.

 Kesimpulannya, saya tetap merasa senang karena saya pernah ada.

Have a good day! kritik dan saran atas magnum opus betul-betul saya harapkan. 🙂

Selamat Hari Guru Sedunia!!!

Guru adalah siapapun yang memberi insprasi orang lain untuk terus belajar. Guru yang paling hebat yang pernah saya temui adalah ibu dan ayah saya, mereka adalah inspirasi terbesar saya, saya ingin sedikit curhat tentang salah satu inspirasi yang mereka beri.
Kejadiannya H-1 idul adha tahun lalu, ibu dan ayah mengetok kosan saya lalu mengajak saya pulang. Mereka baru pulang dari rumah kakek dan nenek (almarhum), jadi mereka sekalian menyeret saya untuk pulang kampung.
Tidak ada yang berbeda saat itu, sepeti biasa saya hanya duduk di jok belakang mobil sementara ayah dan ibu duduk di depan. Karena saat itu adalah tahun pertama saya kuliah di IPSE, maka semangat saya saat itu sangat menggebu-gebu untuk mempelajari sains dan bahasa inggris, termasuk merubah bacaan saya, hehe… membuku dengan “the periodic table-nya Primo Levi” memberi keasyikan tersendiri dalam mempelajari unsur dalam table periodic yang dikemas dengan indah melalui sastra dan kandungan filosofis yang sangat kental. Ibu asyik, ‘ngabate’ hape saya searaya mendengar soundtracknya film ‘Gie’, wajar soundrack film luar biasa itu memang sangat disukai ibu saya.
Nagregpun tiba, Garut semakin dekat, kemacetan yang sangat panjang seakan menghambat harapan untuk pulang lebih cepat. Ibu menghentikan musiknya, lalu memberikan hapenya pada saya.
“Neng,” ibu saya memanggil
“ya,”
“Tau ga, kalau menulis itu bukan hanya membagi kata, tapi berbagi rasa”
“Emang, gimana caranya?”
“Dan membaca itu bukan hanya membaca kata, namun membaca rasa”
“eh?” saya mulai mengalihkan perhatian, novel yang saya pinjam dari perpustakaan itu langsung saya tutup.
“Gimana, gimana?”
“Emang baca buku itu cuma baca buku aja? Engga, membaca itu termasuk membaca lingkungan dan membaca perasaan”
“baca itu ya baca buku, ma” saya sok tahu
“coba lihat itu?” ibu menunjukan saya sebuah event saat nagreg macet total.
Saya melihat seorang bapak di dalam sebuah bengkel sedang menimang anaknya yang berumur kurang lebih 1 tahun, dia bermain-main dengan anaknya dibalik etalase onderdil, ditaruhnya anak itu di pundak bapaknya, bapaknya melompat-lompat sambil terus memegang anaknya, anaknya tertawa kegirangan. Tidak lama setelah itu, seorang lak-laki yang mengerudungi kepalanya dengan sarung datang ke bengkel itu, hak sandalnya agak tinggi oleh karet, kami menyebutnya, tarumpah. Si laki-laki bersarung menghampiri si bapak, si bapak lalu menaruh anak itu di atas etalase, kemudian si bapak asyik mengobrol dengan laki-laki bersarung. Si anak dibiarkan beberapa saat, dia malah asyik bermain dengan obeng.
“Nah, coba baca, apa yang kamu lihat dari sana?”
“Aku lihat seorang bapak di dalam bengkel…” (persis seperti kalimat diatas)
“Coba kembangkan skenario, apa yang terjadi sama anak itu”
“Oh, anak itu asyik mainan obeng, lalu jatuh pas bangun jadi jenius deh”
“Hahaha, nah itu namanya membaca keadaan”
“Dengan membaca keadaan kita akan peka pada perasaan juga akan lebih mudah mengembangkan tulisan”
“Coba, dari mana Andrea Hirata tahu banyak tentang belitong, sampai dia bisa mendeskripsikan belitong sebegitu detailnya, sampai dia bisa menyalurkan emosi pada pembaca kalau bukan dari membaca keadaan? ”
“eh, iya juga ya” saya tersenyum polos
“Gitu anakku, belajar itu bukan hanya dari buku tapi dari pengalaman sehari-hari,” saya mengangguk,
“Jadilah pendengar yang baik, pemerhati yang baik, dan pembelajar yang baik”
“hehe, kalau kata Newton namanya kurcaci yang diem di pundak raksasa. Diam untuk belajar”
“Betul, Ma” ayah menimpali
“Sekarang udah dapat pengalaman, kan? Habis ini langsung ditulisin …”
“Buat apa?’
“Ilmu itu harus dituliskan, itu akan sangat bermanfaat, kan sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain” Ayah berbicara sambil terus menyetir
“Lagian,  aku bukan penulis novel kok, gak akan banyak yang baca, kalo nyuruh Dee buat nulis baru keren!”
“Loh, kenapa harus berharap dibaca sama banyak orang?”
“mmm…”
“Menulis itu kebutuhan setiap individu”
 “Untuk refleksi diri, Untuk membentuk karakter, Untuk mengikat ilmu, untuk lebih bermanfaat” ayah menjelaskan dengan singkat.
“Coba baca lagi kejadian yang lain,” ayah menunjuk sebuah kejadian dengan dagunya.
“Aku mecoba menautkan mata pada sebuah kejadian”
Seorang pedagang ulen keluar dari bis, sisanya tinggal setengah wadah lagi, seorang pedagang itu berkeringat banyak. Tangan kanannya kemudian melepaskan topi lalu mengipas-ngipaskannya pada lehernya, usianya kira-kira kepala tiga, ia lalu menghampiri seorang pedagang kerupuk kulit sambil terus mengibas-kibaskan topinya, pedagang kerupuk kulit wajahnya lebih tua namun air mukanya lebih ceria, kerupuk kulit ia wadahi ke dalam plastik besar berukuran kurang lebih satu meter, cukup untuk menutupi kaki sampai dadanya. Dia melambaikan tangan, menyambut temannya yang memgang nampan ulen itu, lalu mereka bercengkrama di pinggir jalan sambil tertawa sebelum akhirnya masuk ke dalam bis yang lain.
~Guru adalah orang yang senantiasa menginspirasi. Termasuk inspirasi bahwa hidup tidak cukup hanya untuk bersinar, namun juga menyinari.~
Selamat hari guru sedunia!
nurulaaisyah
251111